Welcome

Sunday, December 12, 2010

Model Pembelajaran Inquiri

Pengertian Pembelajaran Inkuiri

Discovery merupakan bagian dari inquiry, atau inquiry merupakan perluasan proses discovery yang digunakan lebih mendalam. Inkuiri dalam bahasa inggris (inquiry), berarti pertanyaan, atau pemeriksaan, penyelidikan. Inkuiri sebagai proses umum yang dilakukan manusia untuk mencari atau memahami informasi.
Gulo (2002) menyatakan strategi inkuiri adalah suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Sasaran utama pembelajaran inkuiri adalah keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar, keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan pembelajaran, dan mengembangkan sikap percaya pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri.


Kondisi umum yang merupakan syarat timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa adalah:
1. Aspek sosial di kelas dan suasana terbuka yang mengundang siswa berdiskusi
2. Inkuiri berfokus pada hipotesis
3. Penggunaan fakta sebagai evidensi (informasi, fakta).

Untuk menciptakan kondisi seperti itu, peranan guru adalah:
a. Motivator, memberi rangsangan agar siswa aktif dan bergairah pikiran.

b. Fasilitator, menunjukkan jalan keluar jika siswa mengalami kesulitan
c. Penanya, menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka buat.
d. Administrator, bertanggungjawab terhadap seuruh kegiatan kelas.
e. Pengarah, memimpin kegiatan siswa untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
f. Manajer, mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas.
g. Rewarder, memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai siswa.

Pembelajaran inkuiri dirancang untuk mengajak siswa secara langsung ke dalam proses ilmiah dalam waktu yang relative singkat. Hasil penelitian Schlenker, dalam Joyce dan Weil (1992: 198), menunjukkan bahwa latihan inkuiri dapat meningkatkan pemahaman sains, produktif dalam berpikir, kreatif, dan siswa menjadi terampil dalam memperoleh dan menganalisis informasi.


Munandar (1990: 47), mengemukakan beberapa perumusan kreativitas adalah sebagai berikut.
“Kreativitas (berpikir kreatif atau berpikir divergen) adalah kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia, menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap sesuatu masalah dimana penekanannya pada kuantitas, ketepatgunaan, dan beragam jawaban. Makin banyak kemungkinan jawaban yang dapat diberikan terhadap suatu masalah, makin kreativitas seseorang. Tentu saja jawaban itu harus sesuai dengan masalahnya. Jadi, tidak semata-mata banyaknya jawaban yang dapat diberikan menentukan kreativitas seseorang, tetapi juga kualitas atau mutu dari jawabannya.”


Tidak dapat dipungkiri bahwa kesejahteraan masyarakat dan Negara bergantung pada sumbangan kreatif dari masyarakat, untuk itu perlulah sikap dan perilaku dipupuk sejak dini pada peserta didik yang kelak mampu menghasilkan pengetahuan baru.
Ciri perkembangan afektif yaitu menyangkut sikap dan perasaan, motivasi atau dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu misalnya rasa ingin tahu, tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan siswa sebagai tantangan, berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan atau dikritik oleh siswa lain, tidak mudah putus asa, menghargai diri sendiri maupun orang lain (Munandar, 1990: 51).



Daftar Pustaka

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka

 Semoga Bermanfaat... :)

No comments:

Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner